Jumat, 24 Januari 2014
Kamis, 09 Januari 2014
MATERI DARMA GITA
I. PENGERTIAN
II. JENIS-JENIS DHARMA GITA
III. FUNGSI DHARMA GITA
IV. TUJUAN DHARMA GITA
V. MATERI DHARMA GITA
VI. BAHASA
I. Pengertian
Secara etimologi Dharma Gita berasal dari dua kata,yaitu: Kata dharma yang artinya; Agama, kebenaran yang abadi (bersumber pada veda yang meliputi: tattwa, susila, upacara). Gita artinya nyanyian , lagu suci kerohanian yang luhur. Jadi dharma gita adalah nyanyian suci, yang didalamnya terkandung ajaran keagamaan.
II. Jenis –jenis dharma gita
________________________________________
1. SEKAR RARE
Sekar rare ini biasanya dinyanyikan disaat mengasuh bayi atau balita. Agar tidak rewel. Atau bisa juga merupakan nyanyian untuk menidurkan si kecil. Atau nyanyian yang dipergunakan dalam mengiringi permainan rakyat. Nyanyian anak-anak ini tidak terikat oleh Padalingsa, ataupun Guru Lagu.
Contohnya:
Putri Cening Ayu (Karya NN )
Putri cening ayu
Ngijeng cening jumah
Meme luas malu
Kapeken mablanja
Apang ada darang nasi
Juru Pencar (Karya NN )
Juru pencar juru pencar
Mai jalan mencar ngejuk be
Be gede-gede be gede-gede
Di sawane ajaka liu.
Semut-semut Api (Karya NN )
Semut-semut api kija ambain mulih
Tembok bolong saling atat saling pentil
Katipat ane pasil
Ebene dongkang kipa
Enggok-enggok cunguh besil
Meong-meong (Karya NN )
Meong meong alih je bikule
Bikul gede-gede
Buin mokoh-mokoh
Kereng pesan ngarusuhin
Juk meng juk kul juk meng juk kul
2. SEKAR ALIT
Jumlah baris syair dalam sekar alit bersifat baku,disesuaikan dengan jenis pupuhnya.Sekar alit juga diikat oleh pada lingsa (jumlah suku kata serta rima dalam suatu baris syair)Sekar Alit disebut juga geguritan: berupa pupuh/ tembang macapat yang isinya adalah ajaran agama.
Macam-macam pupuh sekar alit:
a. Sinom
Pupuh Sinom terdiri dari 10 baris. Baris pertama pada lingsanya 8a ( 8 suku kata berakhir vokal a).Baris ke dua pada lingsanya 8i,baris ke tiga pada lingsanya 8a, baris ke empat pada lingsanya 8i, baris ke lima pada lingsanya 8i, baris ke enam pada lingsanya 8u, baris ke tujuh pada lingsanya 8a, baris ke delapan 8i,baris ke sembilan pada lingsanya 4u, baris ke sepuluh pada lingsanya 8a.
b. Ginanti
Pupuh Ginanti terdiri dari 6 baris. Baris pertama pada lingsanya 8u ( 8 suku kata berakhir vokal u).Baris ke dua pada lingsanya 8i,baris ke tiga pada lingsanya 8a, baris ke empat pada lingsanya 8i, baris ke lima pada lingsanya 8a, baris ke enam pada lingsanya 8i.
c. Semarandhana
d. Durma
Pupuh Durma terdiri dari 7 baris. Baris pertama pada lingsanya 12a ( 12 suku kata berakhir vokal a).Baris ke dua pada lingsanya 7i,baris ke tiga pada lingsanya 6a, baris ke empat pada lingsanya 5a, baris ke lima pada lingsanya 8i, baris ke enam pada lingsanya 4a , baris ke tujuh pada lingsanya 7i.
e. Pucung
Pupuh Pucung terdiri dari 6 baris. Baris pertama pada lingsanya 4u ( 4 suku kata berakhir vokal u).Baris ke dua pada lingsanya 8u,baris ke tiga pada lingsanya 6a, baris ke empat pada lingsanya 8i, baris ke lima pada lingsanya 4u, baris ke enam pada lingsanya 8a.
f. Dandang gula
g. Pangkur
Pupuh Pangkur terdiri dari 7 baris. Baris pertama pada lingsanya 8a ( 8 suku kata berakhir vokal a).Baris ke dua pada lingsanya 11i,baris ke tiga pada lingsanya 8u, baris ke empat pada lingsanya 8a, baris ke lima pada lingsanya 12u, baris ke enam pada lingsanya 8a, baris ke tujuh pada lingsanya 8i.
h. Maskumambang
Pupuh Maskumambang terdiri dari 4 baris. Baris pertama pada lingsanya 12i ( 12 suku kata berakhir vokal i).Baris ke dua pada lingsanya 6a,baris ke tiga pada lingsanya 8u, baris ke empat pada lingsanya 8a.
i. Ginada
Pupuh Ginada terdiri dari 7 baris. Baris pertama pada lingsanya 8a ( 8 suku kata berakhir vokal a).Baris ke dua pada lingsanya 8i,baris ke tiga pada lingsanya 8a, baris ke empat pada lingsanya 8u, baris ke lima pada lingsanya 8a, baris ke enam pada lingsanya 4i, baris ke tujuh pada lingsanya 8a.
j. Mijil
Pupuh Mijil terdiri dari 6 baris. Baris pertama pada lingsanya 10i ( 10 suku kata berakhir vokal i).Baris ke dua pada lingsanya 6o,baris ke tiga pada lingsanya 10e, baris ke empat pada lingsanya 10i, baris ke lima pada lingsanya 6i, baris ke enam pada lingsanya 6u.
Pupuh Sinom
Panca Saradha (Karya NN )
1. Pa-ku-kuh da-sar a-ga-ma (8a)
2. Pan-ca sa-ra-dha ka-da-nin (8i)
3. Sa-ne la-li-ma pu-ni-ka (8a)
4. Brah-ma sa-ne ka-ping si-ki (8i)
5. At-ma sa-ne ka-ping ka-lih (8i)
6. Kar-ma ka-ping te-lu mung-guh (8u)
7. Sam-sa-ra-ne ka-ping em-pat (8a)
8. Mok-sa ka-ping li-ma sa-mi (8i)
9. Buat sa-su-duk (4u)
10. Ba-pa ja-ni ma-ra ta-tas (8a)
Pupuh Ginanti
Pitutur Guru (Karya NN )
1. Sa-king tu-hu ma-nah gu-ru (8u)
2. Mi-tu-tu-rin ce-ning ja-ni (8i)
3. Ka-wru-he lu-wir san-ja-ta (8a)
4. Ne da-di pra-bo-tang sa-i (8i)
5. Ka-ang-gen nga-ru-ruh mer-ta (8a)
6. sa-e-nun ce-ni-nge u-rip (8i)
Pupuh Durma
Durma (Karya NN )
1. Ca-i dur-ma pia-nak ba-pa pa-ling wa-yah (12a)
2. Tum-bu-he ka-sih a-sih (7i)
3. Ka-ting-ga-lan bi-ang (6a)
4. Jumah cening apang me-lah (5a)
5. Ba-pa lu-as na-ngun ker-ti (8i)
6. Ka-gu-nung alas (4a)
7. I-de-pang ba-pa ma-ti (7i)
Pupuh Pucung
Bibi Anu (Karya NN )
1. Bi-bi a-nu (4u)
2. La-mun pa-yu lu-as man-dus (8u)
3. An-te-nge te-ke-kang (6a)
4. Yat-na-in nga-ba ma-sui (8i)
5. Ti-uk pun-tul (4u)
6. Ba-wang ang-gon pa-si-ke-pan (8a)
Pupuh Pangkur
I Buaya Masolah (Karya NN )
1. Pan su-ka mung-guh ring gi-ta (8a)
2. Ka-la ling-sir bu-dal ngung-si ne-ga-ri (11i)
3. Sar-wi mak-ta re-bab gam-buh (8u)
4. Ring mar-gi-ne pa-nes pi-san (8a)
5. Lang-kung a-rang ta-ru-ne sa-ne ka-du-lu (12u)
6. Pa-mar-gin-nya sam-pun jam-bat (8a)
7. Le-sun-nya ne tan si-ni-pi (8i)
Pupuh Maskumambang
1. Mas-ku-mam-bang ta-luh dong-kang da-di becing (12i)
2. Te-me-lu-ke ko-cap (6a)
3. Da-di le-gu-ne ma-ta-luh (8u)
4. Bo-bo-re da-di a-nyu-ngah (8a)
Pupuh Ginada
Eda Ngaden Awak Bisa (Karya NN )
1. E-da nga-den a-wak bi-sa (8a)
2. De-pang a-nak-ke nga-da-nin (8i)
3. Ge-gi-na-ne bu-ka nyam-pat (8a)
4. A-nak sa-i tum-buh lu-hu (8u)
5. I-lang Lu-hu e-buk ka-tah (8a)
6. Wya-din ri-rih (4i)
7. Li-yu e-nu pa-pla-ja-han (8a)
Pupuh Mijil
Dadong Dauh (Karya NN )
1. Da-dong da-uh nge-lah si-ap pu-tih (10i)
2. Ba ma-ta-luh re-ko (6o)
3. Mi-nab a-da li-mo-las ta-luh-ne (10e)
4. Na-nging la-cur a-da nak ne-pu-kin (10i)
5. A-nak ce-rik-ce-rik (6i)
6. Li-wat ru-sit i-pun (6u)
3. SEKAR MADYA
Disebut sekar madya karena merupakan peralihan antara sekar alit dan sekar agung,Sekar alit menonjolkan keindahan nada sedangkan sekar agung menekankan isi (tattwa agama) sedangkan sekar madya diantaranya.sekar madya ini juga terikat oleh pada lingsa dan guru lagu.
Macam-macam kidung sekar madya:
a. Kidung dewa yadnya
b. Kidung butha yadnya
c. Kidung manusa yadnya
d. Kidung pitra yadnaya
e. Kidung rsi yadnya
Contoh kidung Dewa Yadnya
Kawitan Wargasari
Purwakaning (Karya NN )
Purwakaning angripta rum
Ning wana wukir
Kahadang labuh kartika
Panedengin sari
Pngayom tanggluli ketur
Angringring jangga mure.
Pupuh Wargasari
Ida Ratu Saking Luhur (Karya NN )
Ida Ratu sakeng luhur
Kahula nunas lugrane
Mangda sampun titiang tandruh
Mengayat Bhatara mangkin
Titiang ngaturang pejati
Banten suci lan daksina
Sami sampun puput
Pretingkahing saji.
Contoh kidung Bhuta Yadnya
Pupuh Jerum/rikala mecaru (Karya NN )
Tangeh anamun turida
Salimur tan kasalimur
Pakerti abayeng dangu
Tumuwuh anadi wong
Rasa tan kadi ageman
Marmanira misreng kidung
Tan anutin pupuh basa
Pina ewa de sang wiku
Contoh kidung Manusa Yadnya (rikala mapetik)
Kidung malat rasmi bawak (Karya NN )
Asahur sembah sira panji
Sama lungguhing patani
Danta nawun mahisa
Wangkawa kinen angambil gunting
Contoh kidung Pitra Yadnya
Rikala kasetra/wirama Indrawangsa/Swandewi (Karya NN )
Mamwit narendratmaja
Ring tapowana manganjali
Ryyagraningindra Parwata
Tan wismreti sangka nikang
Hayun teka
Swabhawa sang sajjanarakwa
Mangkana
Contoh kidung Rsi Yadnya
Kidung Tantri tatkala padiksaan/mawinten (Karya NN )
Aswa memurihang bukti
Away gila pamyakteng suci
Campur samya jnanaputusing
Sarwa budhi yan ring Siwa
Suda sri danta padan ipune
Ringring ayu pantan rwa
Sang hredi tri aksara
Temah ongkara tri kona
Ri wekasing tuduh
4. SEKAR AGUNG
Biasanya sekar agung memuat cerita kepahlawana ("Wira carita"). Sekar agung sesuai istilahnya adalah yang paling agung atau luhur. Karena paling sarat dengan muatan agama yang bersumber dari veda. Sekar agung ini sangat lekat dengan pakem yaitu mesti mengikuti "Guru lagu".
Yang termasuk sekar agung adalah:
1.Palawakya, seperti pembaca sloka sarasamuccaya
2.Kekawin, seperti Ramayana, Bharatayudha, Arjuna wiwaha, Lubdaka,Semaradhana
Adapun pujangga yang menciptakan karya-karya diatas adalah sebagai berikut:
1. Kekawin Ramayana karya Mpu Yogi Swara
2. Bharata yudha karya Mpu Sedah & Empu Panuluh
3. Arjuna Wiwaha karya Empu Kanwa
4. Lubdhaka karya Empu Tanakung
5. Semaradhana karya Empu Darmaja
III.Fungsi dharma gita
1. Untuk memuja Ida Sanghyang Widhi
2. Sebagai media memasyarakatkan ajaran agama
3. Untuk memotivasi umat mencintai agamanya
IV. Tujuan dharma gita
1. Untuk memasyarakatkan ajaran agama lewat media seni suara
2. Untuk memberi sentuhan rasa ksucian & kekhusukan dalam pelaksanaan upacara agama
3. Untuk memberi dorongan kepada kita agar menghargai karya seni dan lebih mencintai kebudayaan warisan leluhur berupa seni surara.
V. Materi dharma gita
Dharma gita diabadikan kepada keagungan agama ,materinya bersumber pada kitab suci veda. Dharma gita merupakan hasil karya yang sangat luhur,oleh kerena itu selalu sesuai dengan jaman.
VI. Bahasa
1. Bahasa sansekerta (palawakya)
2. Bahasa jawa kuno ( kekawin )
3. Bahasa daerah setempat /bali (sekar alit)
4. Bahasa indonesia
PERANAN TRI KAYA PARISUDHA DALAM MENINGKATKAN NILAI ETIKA SISWA KELAS IV SD 1 PEMARON TAHUN 2013-2014
PROPOSAL PENELITIAN
A. JUDUL : PERANAN TRI KAYA PARISUDHA DALAM MENINGKATKAN NILAI ETIKA SISWA KELAS IV SD 1 PEMARON TAHUN 2013-2014
B. Latar Belakang
Agar kerukunan umat Hindu dapat terwujud dimulai dari pembinaan sikap, dimana sikap yang dimiliki oleh seorang akan memberi arah. Corak pada tingkah laku atau perbuatan yang dilakukannya. Telah diketahui bahwa sikap seseorang itu bukan pembawaan sejak lahir melainkan sikap itu dapat dibentuk karena faktor pengalaman, baik pengalaman secara langsung maupun pengalaman tidak langsung.
Ajaran agama memberikan keyakinan dan mendorong untuk memerangi kejahatan, kemiskinan dan kebodohan baik dengan pikiran, perkataan dan perbuatan. Hal ini merupakan dorongan pula untuk mensukseskan dan membina kerukunan umat Hindu. Kekeliruan dalam memahami ajaran agama akan memungkinkan timbulnya perselisihan dan pertentangan yang dapat mempengaruhi persatuan dan kesatuan umat Hindu.
Keinginan manusia untuk mengadakan hubungan dengan manusia lain melahirkan komunikasi, perlu berorientasi pada asas ahlak dan moralitas. Dalam kehidupan bersama ini orang harus mengatur dirinya bertingkah laku. Tidak ada seorangpun boleh berbuat sekehendak hatinya, karena didalam pergaulan dimasyarakat manusia harus menyesuaikan dirinya dengan lingkungan, tunduk kepada aturan bertingkah laku, yang dikenal dengan sebutan berbuat sesuai dengan tata susila. Agar ajaran tata susila ini dapat terwujud dengan baik, maka seharusnya sejak masih berada didalam kandungan, masa anak-anak dan bahkan sampai manusia dewasa harus diberi pendidikan etika, yang diajarkan melalui pendidikan agama, baik dirumah, disekolah, dan di masyarakat. Melalui penerapan Tri Kaya Parisudha, nantinya diharapkan terjadi peningkatan etika pada diri siswa setelah memahami secara mendalam inti-inti ajaran etika yang terdapat dalam konsep ajaran Agama Hindu. Tri Kaya Parisudha merupakan salah satu bagian dari ajaran agama Hindu yang mengatur kesusilaan yaitu mengenai tingkah laku. Namun sebagian besar siswa belum memahami da mendalami ajaran tersebut, sehingga sering terjadi kesalahpahaman dalam lingkungan sekolah, baik dalam hal berbicara dan berbuat.
Selain harapan agar manusia khususnya para siswa dapat memahami ajaran Agama Hindu, perlu juga dituntun untuk dapat mengamalkan atau melaksanakan ajaran Tri Kaya Parisudha sehingga dapat membentuk manusia susila, yang berbudi pekerti mulia dan luhur (Mantra, 1993 : 7).
Bertitik tolak dari uraian diatas yang terkait dengan ajaran Tri Kaya Parisudha maka akan terlihat menjadi selaras menuju terwujudnya karakteristik manusia yang berbudaya untuk selalu meyakini, memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran yang terkandung di dalamnya. Karena pentingnya Tri Kaya Parisudha sebagai pedoman dalam bertingkah laku dalam pola hidup sehari-hari bagi umat Hindu khususnya pada siswa kelas IV SD No. 1 Pemaron.
Berdasarkan fenomena di atas, maka sebagai penulis merasa tertarik untuk meneliti adakah peranan ajaran Tri Kaya Parisudha dalam meningkatkan nilai etika para siswa, sebab jika dilihat dari kesadaran siswa, orang yang mendapat nilai akademik Pendidikan Agama Hindu yang cukup tinggi tetapi tidak sesuai dengan tingkah laku yang diperbuat bahkan boleh dibilang sudah menyimpang dari ajaran Agama khususnya ajaran Tri Kaya Parisudha yang telah diajarkan maupun dipelajari.
C. Rumusan Masalah
Bertitik tolak dari latar belakang masalah yang telah dikemukakan diatas maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
1. Bagaimana konsep Tri Kaya Parisudha dalam meningkatkan nilai etika pada siswa SD No. 1 Pemaron tahun ajaran 2013-2014 ?
2. Adakah peranan yang signifikan antara Tri Kaya Parisudha dengan peningkatan nilai etika pada siswa SD No. 1 Pemaron tahun ajaran 2013-2014 ?
D. Tujuan
Setiap kegiatan yang dilakukan tentu ada tujuan yang ingin dicapai, karena tujuan itulah seseorang dapat mengarahkan kegiatan yang dilakukan, sehubungan dengan hal tersebut maka tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Tujuan Umum
Adapun tujuan umum dari penelitian yang dilakukan adalah untuk memperoleh dan menghasilkan sebuah karangan ilmiah menyangkut tentang peranan Tri Kaya Parisudha dalam meningkatkan nilai etika para siswa SD No. 1 Pemaron.
2. Tujuan Khusus
2.1 Untuk mengetahui secara lebih mendalam tentang konsep Tri Kaya Parisudha dalam meningkatkan nilai etika pada siswa kelas IV SD No. 1 Pemaron.
2.2 Untuk mengetahui adakah peranan yang signifikan antara ajaran Tri Kaya Parisudha dengan peningkatan nilai etika pada siswa kelas IV SD No. 1 Pemaron.
E. Ruang Lingkup Penelitian
Untuk mencegah agar tidak meluasnya suatu permasalahan, maka penelitian dibatasi. Pembatasan penelitian berfungsi sebagai pembatas wilayah kajian, sehingga penjelasan dapat terfokus, terarah dan mendala. Penentuan batasan dalam penelitian merupakan suatu hal yang dipandang penting mengingat batasan penelitian yang terlalu luas cenderung menyebabkan suatu penelitian menjadi tidak terarah dan kurang mendalam terhadap permasalahan yang akan dikaji.
Dalam penelitian ini peneliti hanya mengkaji ajaran Tri Kaya Parisudha, etika dan pokok-pokok ajaran etika, dan bagian-bagian etika.
F. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian merupakan nilai guna dari kegiatan penelitian, melalui penelitian ini diharapkan hasil-hasilnya dapat memberikan manfaat baik secara teoritis maupun praktis yang dapat disampaikan sebagai berikut :
1. Manfaat teoritis yang dimaksud adalah diharapkan informasi yang dapat digali melalui penelitian ini bermanfaat bagi semua umat Hindu khususnya siswa dalam memperkaya konsep-konsep ajaran Tri Kaya Parisudha, karena ajaran Tri Kaya Parisudha itu penting bagi semua orang yang nantinya dapat digunakan sebagai pedoman dalam meningkatkan nilai etika.
2. Manfaat Praktis
2.1 Hasil penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan bagi umat Hindu khususnya bagi siswa untuk dijadikan pedoman dalam melaksanakan ajaran Tri Kaya Parisudha sehingga ajaran tersebut akan dapat digunakan sebagai acuan dalam meningkatkan nilai etika.
2.2 Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas sradha dan bhakti untuk manusia khususnya dalam mengaktualisasikan ajaran etika.
G. Kajian Pustaka, Landasan Konsep dan Landasan Teori
1. Kajian Pustaka
Kajian tentang ajaran Tri Kaya Parisudha dapat diambil dari berbagai sumber. Menurut pendapat Parisada Hindu Dharma yang dikemukakan dalam buku yang berjudul "Upadesa" dinyatakan bahwa Tri Kaya artinya tiga dasar pikiran manusia, Parisudha berarti yang harus disucikan. Jadi Tri Kaya Parisudha yaitu tiga dasar pikiran yang harus disucikan yaitu Manacika, Wacika dan Kayika yang masing-masing berarti dasar prilaku, perkataan dan perbuatan (Parisada Hindu Dharma, 1973 : 53).
Sedangkan dalam buku lain dinyatakan bahwa Tri Kaya Parisudha itu adalah tiga kesatuan pikiran, kata-kata dan perbuatan yang benar guna menuntun hidup manusia didalam menyebar tata laksana guna tercapainya kerukunan dan keharmonisan hidup didalam masyarakat (DPC. Prajanti Hindu Indonesia Kabupaten Buleleng, 1971 : 53).
Dalam buku Sarasamuscaya dinyatakan bahwa Tri Kaya Parisudha dinamakan Karma Patha, yaitu sepuluh banyaknya, perinciannya adalah sifat-sifat pikiran tiga banyaknya. Sifat prilaku kaya atau badan tiga macamnya, sifat prilaku perkataan empat banyaknya (Gd. Pudja, 1979 : 73).
Kajian tentang Tri Kaya Parisudha juga dapat disimak dari kajian Ida Pedanda Made Kemenuh (1974 : 9). Kajiannya tentang Tri Kaya Parisudha adalah Tri artinya tiga, kaya artinya gerak, Parisudha artinya suci. Jadi arti keseluruhannya adalah tiga gerak perbuatan yang disucikan.
2. Landasan Konseptual
Landasan konseptual merupakan pemaparan dari berbagai teori dan hasil penelitian yang relevan dengan masalah yang diteliti (Redana, 2006 : 239). Kajian pustaka memuat dua hal pokok yaitu deskripsi teoritis tentang obyek yang diteliti dan kesimpulan tentang kajian yang antara lain berupa argumentasi. Bahan-bahan kajian pustaka dapat diangkat dari berbagai sumber jurnal penelitian, skripsi, tesis, disertasi, laporan penelitian, buku teks, makalah, laporan seminar, diskusi ilmiah, terbitan-terbitan resmi pemerintah dan lembaga-lembaga.
Konsep menurut Alwasillah (2003 : 14) satu kesatuan pengertian tentang sesuatu hal atau persoalan yang perlu dirumuskan. Dalam merumuskan konsep harus dapat menjelaskan sesuai dengan maksudnya dan harus konsisten menggunakannya. Jika sekali dikatakan begitu maka selanjutnya harus menggunakan konsep tersebut.
Sehubungan dengan uraian tersebut diatas, landasan konsep dimaksud dalam tulisan ini sebenarnya adalah sumber-sumber dari buku untuk memecahkan masalah penelitian. Landasan konseptual dalam penelitian ini memuat uraian sistematis tentang pemikiran yang ada hubungannya dengan penelitian ini memuat uraian sistematis tentang pemikiran yang ada hubungannya dengan penelitian yang dilakukan penulis mencari pengertian-pengertian atau konsep-konsep yang relevan dengan variabel-variabel yang menjadi topik penelitian ini, sehingga diperoleh pemahaman yang komprehensif terhadap permasalahan-permasalahan yang dikemukakan secara berturut-turut.
Konsep merupakan satu kesatuan pengertian tentang sesuatu hal atau persoalan yang perlu dirumuskan. Dalam merumuskan konsep harus dapat menjelaskan sesuai dengan maksudnya, dan harus konsisten menggunakannya.
2.1 Pengertian Tri Kaya Parisudha
Kata Tri Kaya Parisudha dapat diartikan sebagai berikut : "Tri artinya tiga, Kaya artinya perbuatan dan Parisudha artinya suci atau benar. Jadi Tri Kaya Parisudha dapat diartikan : tiga perbuatan yang suci atau tiga perbuatan yang harus disucikan". (Parisada Hindu Dharma, 1979 : 9).
Tiga perbuatan yang harus disucikan tersebut adalah : Manacika, Wacika dan Kayika. Hal ini dapat dipetik dari Manawa Dharma Sastra sloka 73 sebagai berikut : "Hana karma phata ngaranya, kahrtaning, india sepuluh kwehnya, ulahaken kramanya, prawr Hyaning manak sekareng, telu kwehnya, ulahaning wak, pat prawrttyangning kaya, telu, pinda sapuluh, prawrttyaning kaya, wakmanah kengeti". (G. Pudja, 1978 : 61).
Artinya sebagai berikut :
Adalah karma phala namanya, yaitu mengendalikan hawa nafsu, sepuluh banyaknya yang patut dilakukan, perinciannya, gerak pikiran tiga banyaknya, gerak perkataan empat jumlahnya, perbuatan yang timbul dari gerakan badan tiga banyaknya, jadi sepuluh banyaknya yang timbul dari gerakan pikiran, perkataan dan gerakan badan inilah yang patut betul-betul diperhatikan.
Di dalam Sarasamuscaya, mengenai Tri Kaya Parisudha disamakan dengan karma Phala, walaupun demikian pengertiannya adalah sama, yaitu terdiri dari sepuluh bagian antara lain : tiga berdasarkan perbuatan pikiran, empat berdasarkan perbuatan perkataan dan tiga berdasarkan gerak badan, gerak inilah hendaknya dikendalikan kejalan yang benar atau suci.
Beberapa penjelasan tersebut di atas, tentang pengertian Tri Kaya Parisudha adalah tiga pengendalian prilaku manusia ke jalan yang benar. Dalam hal tersebut umat Hindu telah menyadarinya mana dikatakan baik atau mana dikatakan tidak baik. Dalam pernyataan ini dapat dijelaskan sebagai berikut :
Sesuatu yang baik bersifat relatif, karena baik bagi diri sendiri belum tentu baik bagi orang lain misalnya : ngebut itu adalah baik, namun jika dilakukan di jalan umum atau jalan raya ini adalah bertentangan. Sedangkan ukuran untuk kebaikan adalah Dharma, yang merupakan ukuran yang kekal, karena segala sesuatu yang dilakukan berdasarkan kebenaran sudah tentunya baik, sehingga tercapai keharmonisan hidup diantara manusia, serta manusia dengan alam sekitarnya. Mengingat pentingnya ajaran Tri Kaya Parisudha ini dalam kehidupan sehari-hari, maka diusahakan untuk meresapi dan mengamalkan ajaran-ajaran Tri Kaya Parisudha tersebut sehingga menimbulkan suatu pengertian yang dapat dipakai sebagai pedoman untuk pembinaan terhadap manusia pada umumnya dan umat Hindu pada khususnya.
Dalam buku Etika dijelaskan bahwa : "Di antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya, maka dengan ini diharapkan yang baik itu selalu dibiasakan misalnya : pemikiran, perkataan dan perbuatan yang menentukan manusia didalam hidupnya berupa Dharma laksana budhi pekerti yang tentu arah tujuannya dan bahagia untuk diri-sendiri dan untuk orang lain". (Wiratmadja, 1975 : 22).
Ajaran Tri Kaya Parisudha merupakan dasar filsafat kesusilaan Hindu, yang berbentuk pikiran, perkataan, dan tingkah laku yang baik dan mulia, yang selaras dengan ketentuan-ketentuan dharma dan yadnya.
Dharma di sini merupakan jalan untuk pergi ke sorga sebagai halnya perahu, sesungguhnya dharma merupakan alat bagi orang dagang untuk mengunjungi lautan yang menuju pulau harapan". (Parisadha Hindu Dharma, 1979 : 16).
Demikianlah hakekat dharma itu sebagai jembatan atau jalan untuk ke sorga atau untuk mencapai kebahagiaan hidup. Dharma merupakan suatu jalan untuk mencapai kebaikan, maka hendaklah manusia berprilaku yang benar dalam kehidupan dan menjunjung kebenaran untuk mencapai kebahagiaan hidup.
Sebenarnya kata Dharma dalam istilah kerohanian sering kali diartikan agama, karena nama dari kata Dharma ini sebenaranya berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu dari urat kata "dhr" yang artinya menjunjung, memangku, mengatur, memelihara dan menuntun. Dharma berarti hukum. Dalam pri kehidupan manusia Dharma itu dapat diartikan sebagai ajaran suci, kewajiban suci atau peraturan-peraturan suci yang dapat memelihara dan menuntun untuk mencapai kesempurnaan hidup, yaitu berupa dharma laksana dan budhi pekerti yang luhur, yang disebut : jagadhita yang dapat menyebabkan timbulnya kebahagiaan dan kesejahteraan masyarakat serta ketenteraman yang tidak didasarkan atas kebendaan atau keduniawian.
Istilah suci yang sulit ditentukan secara nyata, namun di sini dapat diberikan suatu batasan tentang istilah suci. Adapun istilah suci tersebut pada umumnya, didapati pada istilah agama, yaitu di dalam semua agama dikatakan mempunyai orang suci, demikian pula dalam agama Hindu terdapat istilah suci misalnya orang suci, banten suci dan begitu pula prilaku suci. Orang suci yang dimaksud adalah : karena berkesan dibidang agama dan karena pengabdiannya jadi terkenal. Namun secara khas dinyatakan, mungkin karena kesaktian, kemujijatan, kejujuran serta idialismenya yang demikian patuh terhadap ketentuan hukum serta fungsinya menyebabkan mereka menjadi orang suci. Jadi kesucian itu dapat dikatakan kwalitas yang erat hubungannya dengan rasa, karena antara suci dengan bersih tidak sama.
Jadi kesucian itu adalah sesungguhnya yang dirasakan bebas dari noda-noda, yang dimaksud itu adalah sesuatu yang terlepas dari segala noda dan dosa, sesuai dengan ajaran yang telah ditentukan, serta dapat menghindarkan diri dari hal-hal yang dilarang berdasarkan ajaran Agama Hindu khususnya.
Sesuai dengan pembatasan tersebut yaitu mengenai kesucian yang terdiri dari tiga prilaku manusia baik pikiran, perkataan dan perbuatan badan inilah hendaknya dikendalikan agar mencapai kesucian sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam ajaran agama, khususnya agama Hindu. Dengan dapatnya melaksanakan ketentuan-ketentuan itu serta menjadikan landasan dalam menjalankan kehidupan di dunia ini yaitu dengan melaksanakan prilaku pikiran yang suci antara lain sebagai berikut : "Tidak mengeluarkan kata-kata yang kasar terhadap orang lain, tiada mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan hati orang lain, tiada berbohong dan tiada memfitnah. Melaksanakan prilaku badan atau gerak anggota badan atau gerak anggota badan antara lain : tiada mencuri hak orang lain, tiada memperkosa atau berzinah terhadap kepunyaan orang lain". (Ida Pednada Made Kemenuh, 1978 : 15).
2.2 Manfaat Tri Kaya Parisudha
Seperti telah dijelaskan di atas bahwa Tri Kaya Parisudha merupakan suatu ajaran pengendalian diri yang terdiri dari tiga unsur Manacika, Wacika dan Kayika. Ketiga prilaku, pikiran, perkataan dan prilaku perbuatan itu sangat penting artinya dalam kehidupan di masyarakat. Tiap-tiap gerak atau perbuatan yang dilakukan oleh manusia baik sadar maupun tidak sadar semua akan berbekas di dalam alam pikiran atau citta. Oleh karena itu tiap-tiap mahluk terutama manusia tidak dapat mengingkari adanya subha dan asubhakarma.
Yang dimaksud dengan subhakarma adalah perbuatan baik dan asubha karma adalah perbuatan yang tidak baik atau buruk. Ini adalah sumber kesengsaraan, penderitaan dan sejenisnya. Hal ini jelas sekali, tidak perlu diragukan lagi, kalau seseorang mengalami penderitaan, kemalangan dan kesengsaraan dalam hidupnya, ini disebabkan karena perbuatannya. Apakah perbuatan dalam bentuk pikiran, ucapan dan perbuatan jasmani. Karena manusia ini adalah mahluk mulia, mahluk berpikir, maka ia mampu melepaskan dirinya dari asubha karma dan masuk dalam subhakarma.
Di dalam Buku Pengendalian Diri dan Etika dalam Ajaran Agama Hindu dijelaskan :
Orang-orang yang berbudi luhur disebut sadhujana, sang sajjana, sedangkan orang yang bertabiat buruk disebut : dursila, durjana. Orang sadhujana adalah orang yang sabar, tidak kasar, tidak memikirkan akan cacat cela orang. Hanya kebajikan sajalah yang dikerjakannya, terutama kasih sayang terhadap sesama hidup. Sedangkan orang durjana adalah : sifat ingin berbuat jahat, penipu, pembohong, sehingga orang lain menderita. (I Gede Sura, 1985 : 83).
Dari uraian tersebut di atas, maka manfaat dari Tri Kaya Parisudha adalah untuk membina hubungan yang selaras atau hubungan yang rukun antara seseorang (jiwatman) dengan mahluk hidup sekitarnya, kehidupan yang selaras antara keluarga yang membentuk masyarakat dengan masyarakat itu sendiri, antara satu bangsa dengan bangsa yang lain, dan antar manusia dengan alam sekitarnya. Sifat prilaku yang baik itu hendaknya ditumbuhkan dan dibiasakan, karena sifat ini seseorang akan dapat menguasai diri sendiri dan tidak cepat marah atau putus asa. Akibat pengaruh lingkungan dan panca indrya itu dianjurkan agar benar-benar dapat dikuasai dengan jalan berpikir yang benar, sehingga dengan demikian dapat membedakan antara yang benar dan yang salah.
2.3 Meningkatkan Nilai Etika
Untuk meningkatkan nilai etika pada siswa adalah dengan cara menanamkan konsep ajaran etika. Bagus Mantra (1993:5) memberikan definisi etika atau tata susila adalah peraturan tingkah laku yang baik dan mulia yang harus menjadi pedoman hidup manusia. Mencermati definisi tentang etika ini, dapat dipetik suatu makna bahwa untuk mencapai hidup bersama tampaknya perlu adanya suatu peraturan bertingkah laku bagi setiap orang. Agar kehidupan bersama ini berjalan harmonis, selaras dan seimbang. Maka orang mengatur dirinya dalam bertingkah laku sesuai dengan aturan yang dibuat dan disepakati. Tak ada seorangpun yang berbuat sekehendak hatinya. Masing-masing orang harus menyesuaikan dirinya dengan orang lain, dengan lingkungan, dan tunduk kepada norma yang berlaku. Dengan demikian orang hanya bebas berbuat dalam ikatan aturan tingkah laku yang baik. Apa yang disebut baik dan apa yang disebut buruk sulit dirumuskan, kata I Gede Sura pada bangsa lain pernyataannya. Dalam etika kita akan dapati tentang perbuatan yang baik dan perbuatan yang buruk. Perbuatan yang baik itu supaya dilaksanakan dan perbuatan yang buruk itu dihindari. Tiap-tiap perbuatan itu berdasarkan atas kehendak atau budhi. Jadi apa yang diperbuat orang itu bermula dari kehendak. Oleh karena manusia dihadapkan kepada dua pilihan yaitu pilihan pada yang baik dan buruk, maka ia harus mempunyai kehendak bebas untuk memilih. Tanpa kebebasan itu orang tidak dapat memilih yang baik. Manusia mempunyai kebebasan yang terbatas juga. Yang membatasinya itu adalah norma-norma yang berlaku. Pada mulanya norma berarti penyiku, suatu perkakas yang digunakan oleh tukang kayu untuk mengetahui apakah suatu sudut memang benar siku-siku. Bahkan membuat perabot rumah tidak akan secara untung-untungan menggergaji sebilah papan sebelum ia menggambar sebuah sudut siku-siku pada papan tersebut. Dengan demikian norma berarti sebuah ukuran yang demikian dalam hubungan dengan etika berarti pedoman, usulan atau haluan untuk bertingkah laku. Norma ini timbul karena kita berada bersama orang lain dan lingkungan hidup dan alam. Andaikata orang mengatur dirinya bertingkah laku hanya karena orang lain, maka sewaktu-waktu ia akan berani saja berbuat tidak baik, apabila tidak ada orang melihatnya, karena dengan demikian tidak ada orang yang memberi hukuman. Tetapi untuk tidak demikian, karena orang-orang yang hidup di dunia ini mempunyai kesadaran, bahwa di samping orang lain, alam, Hyang Widhi akan menentukan akibat dari perbuatannya. Kalau perbuatannya baik maka baik pula akibatnya dan bila buruk perbuatannya maka buruk pula akibatnya. Kalau orang berani mengiris kulitnya, alam akan memberikan hukumannya. Orang itu akan luka dan sakit. Tidak ada seorangpun yang luput dari hukum alam. Dengan menyadari adanya hukum alam itu orang akan mengatur dirinya dalam berbuat sesuai hukum alam itu agar hidupnya selamat di dunia ini. tetapi bagaimana dengan perbuatan-perbuatan jahat yang dilakukan seperti mencuri, menyiksa, menipu dan sebagainya yang tampaknya tidak membawa akibat apa-apa bila tidak ada orang lain melihatnya. Dirinya sendiri menjadi saksi. Seseorang tidak dapat mengingkari segala sesuatu yang diperbuat terhadap dirinya sendiri, karena didalam dirinya ada sesuatu yang tidak dapat ditipu dan dibohongi yaitu Sang Hyang Atma. Walau mulut kita mengatakan benar terhadap perbuatan yang salah, Atma akan selalu menjadi saksi segala sesuatu yang dipikirkan, dan dilakukan orang lain. Atma adalah bagian dari Hyang Widhi berada dimana-mana. Beliau mengetahui segala. Beliau mengetahui apapun pula. Karena itu orang tidak dapat menyembunyikan segala perbuatannya kepada beliau. Karena beliau adalah saksi agung akan segala kejadian di alam semesta ini. beliau akan menentukan akibat dari perbuatan seseorang apakah perbuatan seseorang itu baik atau tidak. Dengan demikian orang tidak akan berbuat sesuatu yang menyimpang dari norma-norma tingkah laku yang benar dan apabila berani melanggar norma itu maka penderitaan yang akan dialaminya. Ajaran tentang peraturan-peraturan tingkah laku itu tentang adanya atma, adanya Tuhan, terdapat dalam ajaran agama. Ajaran-ajaran agama memberikan sanksi-sanksi hukum yang niskala atas sesuatu perbuatan yang ditentukan oleh Tuhan. Orang lebih berani menentang dan melanggar hukum-hukum sekala (nyata) yang ditentukan oleh manusia karena ia dapat membayangkan akibat yang akan diterima dibanding dengan hukum-hukum niskala. Maka agama merupakan dasar susila yang kuat.
Bagua Mantra (1993 : 40) walaupun demikian manusia tahu apa yang baik dan apa yang buruk itu. Tidak memfitnah, menolong adalah perilaku yang baik, mencuri, berbohong adalah perilaku yang buruk. Kesadaran akan adanya perbuatan baik dan buruk itu disebut "kesadaran etis". Tetapi apa yang belum tentu benar dan apa yang belum tentu buruk belum tentu salah. Kapan perbuatan itu dianggap benar dan kapan perbuatan itu dianggap salah ? Sang Hyang Widhi Wasa menuntun dunia ini melalui jalan yang benar. Segala sesuatu yang dapat menolong dunia ini melalui jalan yang telah ditentukan oleh Sang Hyang Widhi sendiri adalah benar, dan segala sesuatu yang menghalangi jalan ini adalah salah. Kebahagiaan dan penderitaan mahluk lain berarti kebahagiaan dan penderitaan diri sendiri. Menyiksa orang lain sama dengan menyiksa diri sendiri, karena jiwatman kita sendiri tunggal dengan jiwatman semua mahluk. Keinsyafan akan tunggalnya jiwatma dengan Brahma, maka timbul hasrat untuk mempersatukan atma sendiri dengan Brahma. Kebajikan yang dilakukan untuk kesejahteraan semua mahluk disebut darma dan kesatuan antara jiwatman dengan brahma disebut moksa. Jalan untuk melakukan dharma disebut Prawerti marga dan jalan untuk mencapai kesatuan jiwatma dengan brahma disebut Niwerti Marga. Setelah jiwatma bersatu dengan Brahma berarti telah mencapai alam moksa. Mantra (1997 : 11) Tujuan hidup kita yang terakhir adalah moksa, yaitu persatuan antara Jiwatma dengan Paramatma. Jalan yang benar adalah segala sesuatu yang menuju kearah kesatuan. Segala sesuatu yang menghalangi kesatuan, adalah tidak benar, untuk mengetahui jalan yang benar, Sang Hyang Widhi tidak membiarkan kita didalam keadaan yang gelap. Beliau selalu menuntun umatnya, selalu kasih kepada umatnya demikian pula sikap kita terhadap orang tua hendaknya kasih hormat, berusaha menolong dan memperlakukan baik terhadap mereka sebaik-baiknya. Sikap kita kepada suadara dan kawan-kawan hendaknya jujur dan baik hati dan berusaha mempunyai perasaan kasih kepadanya tidak membicarakan dan berbuat kasar kepadanya. Pada orang yang lemah, hendaknya kita memakai kekuatan kita untuk melindungi mereka dan tidak berbuat sesuatu yang menakutkan. Dan yang terpenting yang harus kita perbuat adalah berpedoman dengan Tri Kaya Parisudha.
Agar anak didik dapat menghayati ajaran agama dan berprilaku yang baik maka penanaman konsep didalam kelas terus dilakukan sepanjang proses pembelajaran berlangsung. Penanaman konsep etika itu juga dilakukan dengan cara setiap purnama tilem para siswa diajak melakukan persembahyangan bersama, juga diisi membahas soal sarana ritual, jadi ada keseimbangan antara teori dan praktek di lapangan menyangkut materi agama.
Untuk dapat memaksimalkan penyerapan dan pemahaman materi agama transformasi nilai agama kepada anak didik semestinya dilakukan sejak usia dini, oleh karena itu tanggung jawab Pendidikan Agama Hindu pada anak bukan semata-mata tanggung jawab guru di sekolah, tetapi tanggung jawab semua pihak. Peranan orang tua sangat berpengaruh besar pada pemahaman dan penyerapan materi agama pada anak didik, terlepas dari hal tersebut, sekolah sebagai lembaga formal mempunyai suatu tanggung jawab dalam rangka pembentukan karakter, sifat dan tabiat anak didik, agar terjadi peningkatan nilai-nilai etika pada siswa.
2.4 Teori
Sehubungan dengan pembahasan landasan teori ini, maka peneliti akan mencoba mengemukakan beberapa pokok pemikiran dari beberapa teori yang akan digunakan landasan berpikir. Hal ini mengacu kepada konsep bahwa teori dapat bertindak sebagai alat dalam ilmu pengetahuan. Teori mencoba menjawab pertanyaan mengapa (why) dan bagaimana (how). Teori dapat memberikan landasan penjelasan dan prediksi. Teori dalam pengertian ilmiah bertujuan hanya satu yaitu menjelaskan hubungan dari aktivitas yang diamati.
Teori juga dapat dimanfaatkan untuk mensistematiskan dan mengorganisasikan pengalaman sehari-hari, serta dari kesistematisan pengorganisasian pengalaman sehari-hari kemudian diharapkan dapat mengembangkan suatu hipotesa khusus yang diberikan kepada tes empirik melalui proses penelitian.
Snelbecker, (dalam Dahar, 1989 : 1) berpendapat bahwa teori bukan hanya penting, tetapi vital psikologi dan pendidikan, untuk maju dan berkembang serta memecahkan masalah-masalah yang ditemukan dalam setiap bidang itu.
Terkait dengan hal tersebut diatas, serta dengan mencermati latar belakang, rumusan serta tujuan penelitian yang telah dikemukakan di atas, maka dasar teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori Tindakan Beralasan. Ajzen dan Fisbein (dalam Brehm dan Kasin yang dikutip oleh Anwar, 2003 : 11) mengemukakan bahwa teori Tindakan Beralasan (Teory of reasonedaction), dengan mencoba melihat antesenden perilaku volusional (perilaku yang dilakukan atas kemauan sendiri), teori ini didasarkan atas asumsi-asumsi : (1) bahwa manusia umumnya melakukan sesuatu dengan cara-cara yang masuk akal, (2) bahwa manusia mempertimbangkan informasi yang ada, (3) dan bahwa secara eksplisit manusia mempertimbangkan implikasi tindakan mereka.
Teori tindakan beralasan mengatakan bahwa sikap mempengaruhi lewat proses pengambilan keputusan yang diteliti dan beralasan, dampaknya terbatas pada tiga hal yaitu : (1) Prilaku tidak banyak dilakukan oleh sikap umum tetapi oleh sikap yang spesifik terhadap sesuatu, (2) Prilaku dipengaruhi tidak hanya oleh sikap, tapi norma-norma subyektif atau keyakinan kita mengenai apa yang orang lain inginkan agar kita perbuat, (3) Sikap terhadap suatu perilaku bersama norma-norma subyektif membentuk suatu intensi atau niat untuk berprilaku tertentu.
2.5 Pendekatan dan Metode Pembelajaran Agama Hindu
Untuk melaksanakan proses pembelajaran Pendidikan Agama Hindu khususnya ajaran Tri Kaya Parisudha di sekolah dapat dilakukan melalui beberapa cara :
(a) Pendekatan pengalaman adalah cara pendekatan yang dilakukan dengan jalan memberikan contoh pengalaman keagamaan kepada para siswa dalam rangka penanaman konsep nilai-nilai keagamaan
(b) Pendekatan rasional adalah suatu cara pendekatan dengan tujuan untuk menggugah siswa menggunakan rasio atau akalnya dalam menerima atau memahami akaran Tri Kaya Parisudha.
Di samping menggunakan pendekatan-pendekatan seperti di atas, penerapan ajaran Tri Kaya Parisudha dalam proses pembelajarannya juga menggunakan metode yang umum sebagai berikut :
a. Metode Dharma Wacana
Dharma wacana maksudnya adalah metode ceramah yang intinya seorang guru menjadi titik fokus menceritakan hal-hal yang telah dipersiapkan. Dalam penterapan metode ini sistem penyajiannya dapat dipilih menurut materi yang akan disampaikan.
b. Metode Tirta Yatra
Metode ini bersifat mengajak siswa untuk berkunjung ke tempat-tempat suci atau pura, mengenal dan mendalami rasa keagamaannya melalui obyek yang dikunjungi (Petunjuk Teknis Pendidikan Agama Hindu, 1995 : 27-28).
H. Metode Penelitian
3.1 Pendekatan dan Jenis Penelitian
3.1.1 Pendekatan
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Moleong, (1993 : 4) menyebutkan bahwa penelitian kualitatif melakukan penelitian pada latar alamiah atau pada konteks dari suatu sentuhan (entity). Hal ini berarti bahwa penelitian kualitatif bekerja dalam setting yang alami, yang berupaya untuk memahami, memberi tafsiran pada fenomena yang dilihat dari arti yang diberikan orang-orang kepadanya. (Salim, 2001 : 5) Suripan Sadi Hutomo (dalam Sudikan, 2001 : 85 – 86) mengatakan bahwa sumber data penelitian kualitatif bersifat alamiah, artinya peneliti harus memahami gejala empirik (kenyataan) secara langsung dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
3.1.2 Jenis Penelitian
Bercermin pada pendapat diatas, maka penelitian yang dilaksanakan ini bertujuan untuk mengamati peningkatan nilai etika pembelajaran Agama Hindu para siswa kelas IV SD No. 1 Pemaron, terutama pada aspek etika siswa dalam berinteraksi dengan lingkungan belajarnya. Hal ini bertolok dari pengamatan awal yang dilaksanakan bahwa para siswa kelas IV di sekolah ini, banyak yang mengalami krisis nilai etika. Berdasarkan alasan atau pendapat diatas, maka jenis penelitian yang dilaksanakan ini bisa dikatakan tergolong kedalam penelitian kualitatif tipe studi kasus (case study), karena penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan sebuah kasus aktual yang alami, yakni rendahnya nilai etika yang dialami oleh para siswa kelas IV di SD No. 1 Pemaron.
3.2 Data dan Sumber Data
Pekerjaan mengumpulkan data dalam penelitian kualitatif pada umumnya melalui fieldwork, yaitu suatu pekerjaan mencatat, mengamati, mendengarkan, merasakan, mengumpulkan dan menangkap semua fenomena dan informasi tentang kasus yang diselidiki. (Salim, 2001 : 99). Sementara menurut Lofland (dalam Moleong, 1993 : 112) bahwa sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan sebagainya.
Di samping para informan di atas, dalam penelitian ini juga ditunjuk beberapa orang informan tambahan-orang-orang yang benar-benar memaami tentang kualitas nilai etika seseorang dari pencerminan prilakunya, misalnya para dosen Agama Hindu yang peneliti kenal, dan beberapa orang guru Pendidikan Agama Hindu yang bertugas di sekolah tempat penelitian yang dilaksanakan.
3.2 Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik observasi atau pengamatan berperan serta, wawancara serta pencatatan dokumen sebagai metode pelengkap.
Instrumen atau alat pengumpul data yang digunakan penelitian ini adalah segala alat yang digunakan untuk mengumpulkan data, dalam penelitian deskriptif kualitatif, seorang peneliti biasanya menjadi kunci utama dalam mengumpulkan data yang diperlukan. Dalam penelitian ini peneliti sekaligus bertindak sebagai instrumen penelitian. (Moleong, (1993 : 4). Nasution (1996 : 54) menegaskan bahwa dalam penelitian kualitatif peneliti sendiri atau dengan bantuan orang lain merupakan alat pengumpul data utama.
3.3.1 Teknik Observasi / Pengamatan Berperan Serta
Black dan Champion, (dalam Suprayoga dan Tabrani (2001 : 169-170) membagi metode pengamatan (observasi) atas dua kelompok yaitu (1) metpde obserasi partisipan dan (2) metode observasi non partisipan. Dalam observasi partisipan peneliti dapat berperan ganda, karena terlihat langsung dengan objek penelitian yang diteliti sehingga peneliti dapat lebih leluasa (enjoy) dan lebih akrab dengan subjek yang diteliti serta memungkinkan bertanya secara lebih teliti, lebih rinci dan lebih detail, observasi non partisipan tidak hanya menuntut keterlibatan peneliti terfokus terhadap kegiatan/fenomena dari subjek yang diteliti. Penelitian kualitatif dimana peneliti terfokus pada bagaimana mengamati, merekam dan mencatat fenomena yang dimiliki.
3.2.2 Teknik Wawancara Mendalam
Salah satu teknik yang dipergunakan untuk mendapat data dalam penelitian kualitatif tipe studi kasus adalah wawancara/interview. Hal ini sesuai dengan pendapat Yin (2000 : 108) yang menyatakan salah satu sumber informasi studi kasus sangat penting adalah wawancara. Teknik ini dilaksanakan baik terhadap siswa yang mengalami kesulitan berinteraksi dalam belajar Agama Hindu khususnya tentang ajaran-ajaran Tri Kaya Parisudha, terhadap guru pengajar Pendidikan Agama Hindu, maupun orang tua siswa.
3.3.3 Teknik Pencatatan Dokumen
Selain teknik pengamatan berperan serta dan wawancara, dalam penelitian ini juga menggunakan teknik pencatatan dokumen, perolehan data dengan teknik ini kebanyakan dari sumber bukan manusia, diantaranya adalah dokumen-dokumen, data statistik – surat resmi atau media masa.
3.3 Teknik Analisa Data
Penelitian yang dilaksanakan ini menggunakan model penelitian grounded, sehingga analisa data dilakukan sepanjang berlangsungnya kegiatan penelitian serta dilakukan secara terus-menerus dari awal sampai akhir kegiatan penelitian.
3.4.1 Reduksi Data
Dalam usaha mereduksi data ini dilakukan beberapa kegiatan antara lain :
3.4.1.1 Pengkodean Data
Miles dan Huberman, (1984 : 193) mereduksi data diartikan sebagai suatu proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, transformasi data kasar yang muncul dari catatan-catatan.
3.4.1.2 Pembuangan Data
Data yang diperunakan atau dianalisis serta dimanfaatkan dalam penelitian ini adalah data yang relevan dengan topik penelitian. Data yang direduksi atau dibuang adalah data yang tidak terkait dengan permasalahan yang ada dalam penelitian yang dilaksanakan.
3.4.1.3 Pengelompokan Data
Aktivitas pengelompokan data dilakukan untuk mengklasifikasikan kejenuhan data. Jika data informan satu atau dari hasil pengamatan satu telah terjadi secara berulang-ulang sampai data yang dihasilkan dianggap cukup, maka data yang dicari dalam aktivitas pengamatan dan wawancara baik terhadap guru, siswa dan orang tua siswa sudah dipandang jenuh, sehingga pencarian data bisa dihentikan.
3.4.1.4 Penyajian Data
Data yang telah direduksi selanjutnya disusun dan ditata dengan satuan peristiwa dan satuan makan yang meliputi motivasi, kebiasaan belajar agama Hindu, peran guru dalam setiap proses pembelajaran, perhatian orang tua terhadap belajar siswa, serta kemampuan siswa berinteraksi baik di dalam kelas maupun di luar kelas dalam setiap proses pembelajaran Agama Hindu yang dilaksanakan.
3.4.1.5 Penyimpulan dan Verifikasi
Setelah upaya penyajian data dilakukan, maka langkah selanjutnya adalah penyimpulan sementara. Simpulan yang bersifat sementara akan diuji dengan simpulan-simpulan data yang terjaring dari hasil pengamatan dan wawancara berikutnya.
3.5 Pengecekan Keabsahan Temuan
Keabsahan data dalam penelitian kualitatif ikut menentukan kadar keilmiahan hasil penelitian, karena itu dalam penelitian ini, keabsahan data sangat diperhitungkan dengan cermat. Teknik yang dipergunakan untuk memeriksa keabsahan data dan kejenuhan data dalam penelitian ini adalah ketekunan pengamatan dan Triangulasi data.
SISTEMATIKA PENULISAN
HALAMAN JUDUL
HALAMAN PENGESAHAN PEMBIMBING
KATA PENGANTAR
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Ruang Lingkup Penelitian
1.4 Tujuan Penelitian
1.5 Manfaat Penelitian
BAB II KAJIAN PUSTAKA, LANDASAN KONSEP DAN TEORI
2.1 Kajian Pustaka
2.2 Landasan Konsep
2.2.1 Konsep Tentang Tri Kaya Parisudha
2.2.2 Meningkatkan Nilai Etika
2.3 Landasan Teori
2.3.1 Teori Tindakan Beralasan
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Persiapan Penelitian
3.2 Penentuan Subjek Penelitian
3.3 Pendekatan Subyek Penelitian
3.4 Teknik Penentuan Informan
3.5 Teknik Pengumpulan Data
3.6 Metode Wawancara
3.7 Metode Analisis Data
DAFTAR PUSTAKA
Alwasilah, A. Chaedar. 2002. Pokoknya Kualitatif. Dasar-dasar Merancang dan Melakukan Penelitian Kualitatif. Jakarta : PT. Dunia Pustaka Jaya.
Kadjeng Nyoman, Sarasamuscaya, Teks Bahasa Sanskerta dan Jawa Kuno. Cetakan Ketiga Penerbit CV. Yunasco, 1978.
Kemenuh, Ida Pedanda Made. Tri Kaya Parisudha. PN. Penerbit Parisada Hindu Dharma Pusat.
Parisada Hindu Dharma Pusat. Upadeça, Tentang Ajaran-ajaran Agama Hindu. Dinas Pengajaran Propinsi Bali, 1978.
Pendit Nyoman S. Bhagawadgita. Lembaga Penyelenggaran Penterjemah dan Penerbit Kitab Suci Weda dan Dharma Pada Departemen Agama RI. 1978.
Pudja, MA.SH. Gede. Sarasamuscaya, PN. Proyek Pengadaan Kitab Suci Hindu. Departemen Agama Republik Indonesia.
Sura, I Gede. 1985. Pengendalian Diri dan Etika Dalam Ajaran Agama Hindu. Jakarta : Hanuman Sakti.
Langganan:
Postingan (Atom)